Berapa banyak kita
menghasilkan sampah plastik sehari-hari mulai dari air mineral dalam botol,
bungkus makanan, hingga kantong plastik saat berbelanja? Sulit sekali bukan
memisahkan penggunaan plastik dengan kehidupan sehari-hari? Padahal, kenyataan
bahwa plastik adalah sesuatu yang sangat sulit di urai dan membutuhkan waktu
yang lama untuk menunggu plastik itu terurai. Bayangkan, aplikasi produk
plastik sudah menyebar ke segala lini. Selain kemasan, bahan dasar plastik
digunakan untuk kebutuhan gedung dan konstruksi, elektronik, hingga perabotan
rumah tangga.
Plastik adalah
kenyataan yang harus dihadapi. Saat ini jaket, baju, hingga tas yang kita pakai
bisa jadi terbuat dari plastik," ujar Principal Engineer Sentra
Teknologi Polimer Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Johan A.
Nasiri, Selasa (5/4/2016).
Kebutuhan akan
plastik, menurut Johan sudah menjadi bagian dari kehidupan. Alasannya, selain
tahan lama, plastik juga dinilai murah.
Berdasarkan riset
Greeneration pada 2009, satu orang di Indonesia rata-rata memakai 700 kantong
plastik per tahun. Bila diakumulasi, ada lebih dari 100 miliar kantong
plastik—yang pembuatannya menghabiskan 12 juta barrel minyak bumi—digunakan
masyarakat Indonesia per tahun. Terlebih lagi, lahan untuk tempat pembuangan
akhir (TPA) di Indonesia semakin terbatas. Tumpukan tinggi dari sampah yang tak
cepat terurai seperti plastik bakal menggunung dan rawan menjadi penyebab
bencana tersendiri. Bencana akibat sampah—yang kebanyakan didominasi plastik—pernah
melanda Indonesia pada 21 Februari 2005. Saat itu, 157 jiwa hilang sia-sia dan
dua kampung terhapus dari peta karena tertimpa longsoran sampah dari TPA
Leuwigajah, Bandung.
Di ibu kota Aceh
ini, sampah yang dihasilkan per harinya mencapai 200 ton. Karena itu, Wali Kota
Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal mengaku bersyukur pemerintah pusat bisa
memberikan bantuan alat pengelolaan sampah. "Sampah yang dihasilkan 200
ton. Sampah-sampah ini menghasilkan gas," ujar Illiza kepada Kompas.com,
di Jakarta, Senin (25/1/2016). Kondisi ini menjadi salah satu pemicu
Indonesia dalam kondisi darurat sampah
Indonesia merupakan negara maritim, dikelilingi lautan diseantero nusantara dari sabang sampai merauke. Namun sayang, alih-alih kaya akan laut, kita tidak bisa menjaganya dengan baik, karena faktanya Indonesia tercatat sebagai nomor wahid penghasil sampah plastik yang berakhir di lautan se Asia Tenggara, bahkan nomor kedua dunia setelah Tiongkok.
Sebuah studi telah
membuktikan bahwa jutaan ton sampah plastik bermuara di laut dunia, dan itu
sebagain besarnya dihasilkan oleh Tiongkok dan Indonesia. Tiongkok menjadi kontributor terbesar
sekitar 1,3 juta hingga 3,5 juta ton metrik plastik berada dilautan setiap
tahunnya. Sedangkan Indonesia
dengan negara ke-empat terbanyak penduduk di dunia menghasilkan sampah lautan
sebanyak 1,29 juta ton metrik setiap tahunnya. Sebagian besar sampah plastik
tersebut disebabkan oleh limbah tak terurus. Sampah-sampah yang
di buang ke laut berpengaruh terhadap penurunan kualitas air. Parameter
penurunan kualitas air tersebut umumnya berdasarkan kandungan fecal coli,
total coliform, BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical
Oxygen Demand) dan H2S yang terdapat di dalam air.
Jika tidak bisa ditangani dengan baik, maka peneliti memperkirakan hampir seluruh dunia akan terkempung dengan lautan sampah plastik tahun 2025. Hal ini berarti akan semakin banyak hewan laut seperti ikan yang akan makin kekurangan sumber makanan mereka. Sehingga sampah plastik jadi bagian makanannya.
Situasi akan memburuk ketika
sampai sampah plastik masuk ke rantai makanan dari rangkaian fakta itu. Maksud
hati menambah asupan gizi dengan menyantap menu masakan laut, bisa jadi yang
tertelan malah sampah plastik dalam badan ikan bila kondisi itu terjadi. Terlebih
lagi, banyak orang Indonesia pada hari ini masih menggantungkan hidupnya dari
laut dan hasilnya.
Salah satu usaha mengurangi
sampah plastik adalah dengan menghemat penggunaan kantong plastik. Caranya
membawa kantong plastik belanja sendiri sejak dari rumah. Hasil jajak pendapat Kompas
menunjukkan tiga dari lima responden mengakui perlunya membawa kantong
belanja sendiri untuk mengurangi limbah plastik. Beberapa warga bahkan sudah
membawa kantong belanja sendiri saat berbelanja ke mal.
Dirunut ke belakang, perilaku
mengelola sampah plastik cenderung dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya.
Semakin tinggi pendidikan, semakin banyak yang menyetujui kebiasaan ini.
Separuh lebih responden berpendidikan tinggi setuju dengan kebiasaan ini,
sedangkan responden berpendidikan menengah di angka sekitar 40 persen. Hal itu
berbeda dengan warga berpendidikan rendah (SLTP ke bawah). Responden
berpendidikan dasar yang setuju dengan kebiasaan ini persentasenya tidak
mencapai 10 persen. Kesadaran mengurangi plastik pun terlihat dari sisi usia.
Responden berusia muda, yaitu di bawah 35 tahun, cenderung lebih sadar
lingkungan. Hal itu seperti dituturkan oleh Gigih (20), seorang mahasiswa di
Bandung. Dia menyadari kalau kantong plastik merupakan limbah yang harus
dikurangi dan dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu, setiap kali
berbelanja di supermarket, ia sering membawa kantong belanja sendiri.
Pengetahuannya soal perlunya menjaga lingkungan kebanyakan diakses dari
internet dan pergaulan di kampus.
“Saat survei di Jakarta, 103
responden (46,4 persen) tidak lagi memakai (kantong) plastik (saat
berbelanja),” ujar peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Natalya
Kurniawati seperti dikutip Kompas.com pada Rabu (13/4/2016).
Survei YLKI yang melibatkan 222
responden di Jakarta mendapati pula, 83 konsumen mengaku menggunakan kurang
dari 3 lembar kantong plastik, 29 orang memakai 3-4 kantong, dan 7 responden
menggunakan lebih dari 4 kantong. Dari riset itu, mayoritas responden terlihat
sudah mulai mengurangi atau bahkan tak memakai kantong plastik saat berbelanja
dan memilih membawa tas atau kantong belanja dari rumah.
Penelitian itu dilakukan YLKI
pada 1 Maret 2016 sampai 6 April 2016, untuk memantau efektivitas kebijakan
kantong plastik berbayar. Meski demikian, YLKI merasa kebijakan plastik
berbayar belum cukup efektif, dengan data masih banyak juga responden yang
tetap menggunakan kantong plastik dari toko ritel sekalipun dikenakan tambahan
harga. Survei di atas juga relatif terbatas cakupannya. Padahal, ancaman dari
penggunaan plastik tetap membayangi Bumi.
Litbang Kompas
ASRI
RAHAYU
121510010
121510010
A2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar