Total Tayangan Halaman

Sabtu, 11 Juni 2016

Indonesia Penuh Plastik



Berapa banyak kita menghasilkan sampah plastik sehari-hari mulai dari air mineral dalam botol, bungkus makanan, hingga kantong plastik saat berbelanja? Sulit sekali bukan memisahkan penggunaan plastik dengan kehidupan sehari-hari? Padahal, kenyataan bahwa plastik adalah sesuatu yang sangat sulit di urai dan membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu plastik itu terurai. Bayangkan, aplikasi produk plastik sudah menyebar ke segala lini. Selain kemasan, bahan dasar plastik digunakan untuk kebutuhan gedung dan konstruksi, elektronik, hingga perabotan rumah tangga.

Plastik adalah kenyataan yang harus dihadapi. Saat ini jaket, baju, hingga tas yang kita pakai bisa jadi terbuat dari plastik," ujar Principal Engineer Sentra Teknologi Polimer Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Johan A. Nasiri, Selasa (5/4/2016).
Kebutuhan akan plastik, menurut Johan sudah menjadi bagian dari kehidupan. Alasannya, selain tahan lama, plastik juga dinilai murah.

Berdasarkan riset Greeneration pada 2009, satu orang di Indonesia rata-rata memakai 700 kantong plastik per tahun. Bila diakumulasi, ada lebih dari 100 miliar kantong plastik—yang pembuatannya menghabiskan 12 juta barrel minyak bumi—digunakan masyarakat Indonesia per tahun. Terlebih lagi, lahan untuk tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia semakin terbatas. Tumpukan tinggi dari sampah yang tak cepat terurai seperti plastik bakal menggunung dan rawan menjadi penyebab bencana tersendiri. Bencana akibat sampah—yang kebanyakan didominasi plastik—pernah melanda Indonesia pada 21 Februari 2005. Saat itu, 157 jiwa hilang sia-sia dan dua kampung terhapus dari peta karena tertimpa longsoran sampah dari TPA Leuwigajah, Bandung.

Di ibu kota Aceh ini, sampah yang dihasilkan per harinya mencapai 200 ton. Karena itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal mengaku bersyukur pemerintah pusat bisa memberikan bantuan alat pengelolaan sampah. "Sampah yang dihasilkan 200 ton. Sampah-sampah ini menghasilkan gas," ujar Illiza kepada Kompas.com, di Jakarta, Senin (25/1/2016). Kondisi ini menjadi salah satu pemicu Indonesia dalam kondisi darurat sampah

Indonesia merupakan negara maritim, dikelilingi lautan diseantero nusantara dari sabang sampai merauke. Namun sayang, alih-alih kaya akan laut, kita tidak bisa menjaganya dengan baik, karena faktanya Indonesia tercatat sebagai nomor wahid penghasil sampah plastik yang berakhir di lautan se Asia Tenggara, bahkan nomor kedua dunia setelah Tiongkok.
Sebuah studi telah membuktikan bahwa jutaan ton sampah plastik bermuara di laut dunia, dan itu sebagain besarnya dihasilkan oleh Tiongkok dan Indonesia. Tiongkok menjadi kontributor terbesar sekitar 1,3 juta hingga 3,5 juta ton metrik plastik berada dilautan setiap tahunnya. Sedangkan Indonesia dengan negara ke-empat terbanyak penduduk di dunia menghasilkan sampah lautan sebanyak 1,29 juta ton metrik setiap tahunnya. Sebagian besar sampah plastik tersebut disebabkan oleh limbah tak terurus. Sampah-sampah yang di buang ke laut berpengaruh terhadap penurunan kualitas air. Parameter penurunan kualitas air tersebut umumnya berdasarkan kandungan fecal coli, total coliform, BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand) dan H2S yang terdapat di dalam air.

Jika tidak bisa ditangani dengan baik, maka peneliti memperkirakan hampir seluruh dunia akan terkempung dengan lautan sampah plastik tahun 2025. Hal ini berarti akan semakin banyak hewan laut seperti ikan yang akan makin kekurangan sumber makanan mereka. Sehingga sampah plastik jadi bagian makanannya.
Situasi akan memburuk ketika sampai sampah plastik masuk ke rantai makanan dari rangkaian fakta itu. Maksud hati menambah asupan gizi dengan menyantap menu masakan laut, bisa jadi yang tertelan malah sampah plastik dalam badan ikan bila kondisi itu terjadi. Terlebih lagi, banyak orang Indonesia pada hari ini masih menggantungkan hidupnya dari laut dan hasilnya.
Salah satu usaha mengurangi sampah plastik adalah dengan menghemat penggunaan kantong plastik. Caranya membawa kantong plastik belanja sendiri sejak dari rumah. Hasil jajak pendapat Kompas menunjukkan tiga dari lima responden mengakui perlunya membawa kantong belanja sendiri untuk mengurangi limbah plastik. Beberapa warga bahkan sudah membawa kantong belanja sendiri saat berbelanja ke mal.
Dirunut ke belakang, perilaku mengelola sampah plastik cenderung dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Semakin tinggi pendidikan, semakin banyak yang menyetujui kebiasaan ini. Separuh lebih responden berpendidikan tinggi setuju dengan kebiasaan ini, sedangkan responden berpendidikan menengah di angka sekitar 40 persen. Hal itu berbeda dengan warga berpendidikan rendah (SLTP ke bawah). Responden berpendidikan dasar yang setuju dengan kebiasaan ini persentasenya tidak mencapai 10 persen. Kesadaran mengurangi plastik pun terlihat dari sisi usia. Responden berusia muda, yaitu di bawah 35 tahun, cenderung lebih sadar lingkungan. Hal itu seperti dituturkan oleh Gigih (20), seorang mahasiswa di Bandung. Dia menyadari kalau kantong plastik merupakan limbah yang harus dikurangi dan dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu, setiap kali berbelanja di supermarket, ia sering membawa kantong belanja sendiri. Pengetahuannya soal perlunya menjaga lingkungan kebanyakan diakses dari internet dan pergaulan di kampus.
“Saat survei di Jakarta, 103 responden (46,4 persen) tidak lagi memakai (kantong) plastik (saat berbelanja),” ujar peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Natalya Kurniawati seperti dikutip Kompas.com pada Rabu (13/4/2016).
Survei YLKI yang melibatkan 222 responden di Jakarta mendapati pula, 83 konsumen mengaku menggunakan kurang dari 3 lembar kantong plastik, 29 orang memakai 3-4 kantong, dan 7 responden menggunakan lebih dari 4 kantong. Dari riset itu, mayoritas responden terlihat sudah mulai mengurangi atau bahkan tak memakai kantong plastik saat berbelanja dan memilih membawa tas atau kantong belanja dari rumah.
Penelitian itu dilakukan YLKI pada 1 Maret 2016 sampai 6 April 2016, untuk memantau efektivitas kebijakan kantong plastik berbayar. Meski demikian, YLKI merasa kebijakan plastik berbayar belum cukup efektif, dengan data masih banyak juga responden yang tetap menggunakan kantong plastik dari toko ritel sekalipun dikenakan tambahan harga. Survei di atas juga relatif terbatas cakupannya. Padahal, ancaman dari penggunaan plastik tetap membayangi Bumi.
Sumber:
Litbang Kompas

ASRI RAHAYU
121510010
         A2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar