Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas
Ujian Akhir Semester mata kuliah Pendidikan Agama. Penulis mengangkat tentang
kesetaraan gender karena permasalahan tentang gender menjadi isu yang terus
menerus. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Pengertian Gender
Akhir – akhir ini banyak terdengar
tentang kesetaraan gender, dan status sosial yang banyak menjadi permasalahan
dengan pro dan kontra masing-masing yang terus menerus tidak ada habisnya.
Kesetaraan gender adalah hak asasi masing masing setiap individu. Pada
hakikatnya hak seorang perempuan dan laki-laki adalah sama yang membedakan
adalah tugas masing-masing individu.
Gender sendiri memiliki pengertian
perbedaan peran dan fungsi serta kewajiban antara perempuan dan laki-laki yang
akan selalu berkembang setiap saat. Istilah
gender ini pertama kali dikemukakan oleh para ilmuan sosial, mereka bermaksud
untuk menjelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan yang mempunyai sifat bawaan
(ciptaan Tuhan) dan bentukan budaya (konstruksi sosial). Banyak orang
mengartikan atau mencampuri ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati (tidak
berubah) dengan non-kodrati (gender) yang bisa berubah dan diubah sepanjang
zaman. Perbedaan gender ini pun menjelaskan orang berfikir kembali tentang
peran mereka yang sudah melekat, baik pada laki-laki maupun perempuan.
Banyak yang mengira
bahwa gender dan sex adalah suatu pengertian yang sama tapi pada kenyataannya
gender dan sex memiliki artian yang berbeda. Gender adalah sifat bawaan
seseorang contohnya seorang perempuan bekerja di bidang arsitektur karena
kewajiaban dan pekerjaan nya menuntut perempuan tersebut harus mengerti hal hal
yang berhubungan dengan bangunan, seorang laki-laki menjadi make up profesional
karena memilki pasion di bidang tersebut. Jadi dapat disimpulkan gender memilki
artian lebih kepada peran masing masing antara perempuan dan laki-laki.
Tidak selalu perempuan
harus bekerja dirumah mengurus anak, mencuci, dan melakukan pekerjaan rumah
lainnya. Sering orang menganggap bahwa perempuan adalah manusia yang lemah
sehingga ia tidak mampu bersaing di dunia pekerjaan yang meliki tantangan
seperti apa yang dikerjakan oleh laki-laki. Begitu juga dengan laki-laki tidak
selalu laki laki adalah manusia yang paling kuat dan harus menjadi pemimpin.
Dewasa ini sudah banyak laki laki yang menjadi karyawan dan yang menjadi bosnya
adalah seorang perempuan. Itu membuktikan bahwa tidak selalu laki-laki menjadi
pemimpin dan menjadi nomer satu sedangkan perempuan adalah pihak yang lemah.
Intinya gender tidak selalu mengikuti
sex atau jenis kelamin. Semua manusia memilki kesempatan yang sama, tidak ada
perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan. Hanya kewajiban, dan sifat yang
membedakan perilaku antara perempuan dan
laki-laki. Yang perlu ditegaskan dalam kesetaraan gender adalah keadilan dimana
perempuan dan laki laki mendapatkan perilaku yang adil. Dengan adanya keadilan
maka diharapkan tidak ada pengakuan atau perbedaan perilaku antara laki-laki
dan perempuan.
Sebenarnya, kita telah
mempunyai basis legal yang menjamin hak - hak dan kesempatan bagi laki –
laki dan perempuan. Hal tersebut terlihat dari Deklarasi Penghapusan Kekerasan
terhadap Perempuan yang di buat oleh PBB pada tahun 1993. Namun, deklarasi tersebut
tidak begitu dikenal oleh masyarakat di Indonesia, sehingga jarang di buat
sebagai acuan dalam kegiatan penyelesaian masalah yang berbasis gender (Sunanti
Zalbawi, 2004).
Proses sosialisasi yang dapat membentuk
gender yaitu:
1.
Keluarga
Keluarga
adalah faktor dasar yang membentuk bagaimana gender seseorang tersebut. Dari
keluarga pula sifat dan perilaku antara seseorang laki-laki dan perempuan
dibentuk misalnya, anak laki laki bermain mobil mobilan anak perempuan bermain
boneka dan memasak. Anak laki-laki harus memilki sifat yang maskulin sedangkan,
anak perempuan memilki sifat yang lebih feminim.
Contoh
lainnya pada proses sosialisasi perempuan dan laki-laki adalah ketika ia masih
bayi pasti orang tua yang memilki bayi perempuan akan dikenakan baju yang
berwarna pink atau kuning yang mencerminkan warna perempuan sedangkan,
laki-laki diberi warna biru. Tidak hanya itu orang tua juga akan membedakan
perilaku antara anak perempuan dan laki-laki misalnya anak perempuan lebih
dijaga karena perempuan dianggap lemah dan perlu dilindungi sedangkan anak
laki-laki diperlakukan harus menjadi
anak yang pemberani dan kuat.
2.
Kelompok
Bermain
Kelompok
bermain dapat membentuk peran antara anak laki-laki dan perempuan contohnya di
rumah, di lingkungan bermain anak perempuan akan lebih memilih bermain dengan
anak perempuan begitu juga dengan anak laki laki akan meilkih bermain seperti
sepak bola dengan anak laki laki lainnya. Karena jika anak laki laki bermain
dengan banyak teman perempuan maka akan mendapatkan gujatan begitu juga
sebaliknya.
3.
Sekolah
Sekolah
dapat dikatakan agen sosialiasi karena perilaku guru yang sering membedakan
antara pekerjaan laki-laki dan perempuan misalnya, ketika jum at bersih murid
perempuan berkewajiban untuk menyapu sedangkan anak laki-laki yang lebih kuat
berkewajiban mengangkat kursi dan merapikan meja. Contoh lainnya adalah ketika
ada dua murid laki-laki dan perempuan yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah
dan mendapatkan hukuman berbeda antara laki laki dan perempuan misalnya murid perempuan
disuruh membersihkan kamar mandi dan murid laki laki disuruh push up.
4.
Media
Massa
Sering
kita lihat di media massa seperti di majalah, tv, instagram dan media sosial
lainnya. Untuk iklan seperti kosmetik, alat rumah tangga, susu diet akan
menampilkan sosok perempuan yang menggambarkan kecantikannya, kepintarannya
dibidang memasak dan keindahan tubuhnya. Sedangkan iklan seperti direktur
sebuah perusahaan akan menampilkan sosok laki-laki. Hal hal ini akan
mendapatkan pengaruh terhadap kesetaraan gender dan juga mengandung stereotipe
gender.
(Buku SMA kelas 2 Sosiologi Bab Kesetaraan Gender)
Teori teori tentang
gender:
Teori Nature
Sanderson (1995: 411) berpendapat bahwa
perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan merupakan faktor yang sangat
penting dan menentukan dalam membentuk pembagian peran antara kedua jenis
kelamin tersebut.
Teori Nurture dan Kebudayaan.
Teori ini tidak setuju bahwa pemilahan posisi
dan peran laki-laki dan perempuan merupakan kodrat alam faktor biologis tidak
menyebabkan keunggulan laki-laki terhadap perempuan , penilaian sekaligus
pengunggulan terhadap laki-laki disebabkan karena elaborasi kebudayaan terhadap
biologis masing-masing (Sanderson, 1995: 409). Dengan demikian apa yang disebut
dengan sifat kelaki-lakian dan kewanitaan merupakan hasil pemupukan melalui
kebudayaan, lebih khususnya melalui pendidikan. Menurut teori kebudayaan dengan
prespektif materialis, terjadinya keunggulan laki-laki terhadap perempuan
karena dikonstruksi oleh kebudayaan dengan bergesernya benda yang bresifat
komunal menjadi milik pribadi.
Teori Psikoanalisis
Teori ini ditemukan oleh Sigmund Freud. Teori
ini berpangkal pada penis evy (iri pada laki-laki), maksudnya pada seorang
perempuan pertama kali melihat anak laki-laki ia menjadi sadar bahwa dirinya
memiliki kekurangan sesuatu begitu juga sebaliknya.
Kebahagiaan seseorang perempuan akan besar
sekali bila kemungkinan keinginannya untuk memilki bayi laki-laki karena bayi
laki-laki membawakan kelamin yang diidami-damkannya (Budiman, 1985: 8).
Teori Fungsionalisme Struktural
Teori ini tidak secara langsung menyinggung
masalah pemilahan peran antara laki-laki dan perempuan. Menurut teori ini,
penyimpangan ynag melanggar norma akan melahirkan gejolak. Jika terjadi gejolak
maka masing-masing bagian akan berusaha secepatnya menyesuaikan diri untuk
mencapai keseimbangan kembali. Oleh karena itu, harmoni dan integrasi dipandang
sebagai fungsional.
Teori Identifikasi
Menurut teori identifikasi, anak dibentuk
sebagai individu yang diharapkan oleh masyarakatnya melalui proses
identifikasi. Adapun yang dimkasud dengan identifikasi adalah proses dengan
mana individu menginternalisasikan sepernagkat perilkau, sikap, dan
karakteristik yang sangat dekat dengan individu tersebut.
Teori perkembangan kognitif
Menurut teori ini individu berusaha untuk
menjadi orang yang ideal melalui sosialisasi sendiri. proses aktif ini menjadi
dasar bagi penciptaan stereotipe dan naskah peran gender. Anak-anak didorong
menjadi individu seperti kategori yang telah diciptakannya. Mereka akan
mengimitasi perilaku yang dinilai sangat penting begi seksnya dan mengadopsi
yang sesuai dengan penilainnya menjadi anak perempuan atau laki-laki yang
“baik”, dan anak-anak termotivasi untuk menjadi seperti itu.
Menurut : (Muthali’in, Ahmad. 2001. Bias Gender Dalam Pendidikan. Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Press.)
Di Indonesia sendiri masih banyak
terdapat permasalahan tentang gender.
Berikut beberapa permasalahan di Indonesia tentang kesetaraan gender:
1. Stereotip yaitu pembelaan terhadap
salah satu jenis kelamin yang seringkali bersifat negatif dan pada umumnya menyebabkan
terjadinya ketidakadilan.Misalnya, karena perempuan dianggap ramah, lembut,
rapi, maka lebih pantas bekerja sebagai sekretaris, guru Taman Kanak-kanak.
Padahal disisi lain laki-laki pun bisa menjadi sekertaris tidak hanya perempuan
saja.
2. Subordinasi yaitu adanya anggapan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap
lebih rendah atau dinomorduakan posisinya dibandingkan dengan jenis kelamin
lainnya.Contoh: dari Sejak dulu, perempuan mengurus pekerjaan
domestik sehingga perempuan dianggap sebagai “orang rumah” atau “teman yang ada
di belakang”.
3. Marginalisasi yaitu kondisi atau proses peminggiran terhadap salah
satu jenis kelamin dari arus/pekerjaan utama yang berakibat kemiskinan.
Misalnya, perkembangan teknologi menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara
manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang pada umumnya dikerjakan oleh
laki-laki.
4. Double Burden, yaitu adanya perlakuan terhadap salah satu jenis kelamin
dimana yang bersangkutanbekerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis
kelamin lainnya.
Berbagai observasi menunjukkan bahwa perempuan mengerjakan hampir 90 persen
dari pekerjaan dalam rumah tangga. Dan bagi perempuan yang bekerja di luar
rumah, selain bekerja di wilayah publik, mereka juga masih harus mengerjakan
pekerjaan domestik dan sebagainya.
5. Violence, yaitu suatu serangan terhadap fisik maupun psikologis
seseorang.sehingga kekerasan tersebut tidak hanya menyangkut fisik (perkosaan,
pemukulan), tetapi juga nonfisik (pelecehan seksual, ancaman, paksaan, yang
bisa terjadi di rumah tangga, tempat kerja, tempat-tempat umum.
Kompas
29 Juli 2010, menyatakan bahwa permasalahan perspektif gender yang paling
substantif juga terlihat di eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Permasalahan
tersebut mencakup substantif pemahaman tentang kebijakan berspektif gender itu
sendiri. Peningkatan kesadaran dan pemahaman itu, harus dibarengi dengan adanya
keterwakilan perempuan – perempuan dalam lembaga – lembaga negara, terutama
lembaga pembuat kebijakan. Mengingat perempuan masih saja mengalami ketimpangan
di bidang pendidikan, sosial, politik, dan ekonomi hanya karena perkembangan
pengetahuan masyarakat Indonesia tentang gender itu sendiri masih sangat
lambat.
1. Lingkungan keluarga
Posisi
perempuan dalam keluarga pada umumnya dan di masyarakat Indonesia pada
khususnya, masihlah berada di bawah laki – laki. Seperti kasus istri yang
bekerja di luar rumah harus mendapat persetujuan dari suami, namun pada umumnya
meskipun istri bekerja, haruslah tidak boleh memiliki penghasilan dan
posisi lebih tinggi dari suaminya. Meskipun perempuan sudah bekerja di luar
rumah, mereka juga harus memperhitungkan segala kegiatan yang ada di rumah,
mulai dari memasak hingga mengurus anak
2. Lingkungan pendidikan Di bidang pendidikan,
perempuan menjadi pilihan terakhir untuk mendapatkan akses. Oleh karena itu,
tingkat buta huruf tertinggi di Indonesia juga masih didominasi oleh kaum
perempuan (kompas, 29 Juli 2010).
3. Lingkungan pekerjaan Perempuan yang memiliki
akses pendidikan yang tinggi pada umumnya bisa mendapatkan pekerjaan yang
layak. namun, pemilihan pekerjaan tersebut masih berbasis gender. Perempuan
dianggap kaum yang lemah, pasif dan dependen. Pekerjaan seputar bidang
pelayanan jasa seperti bidang administrasi, perawat, atau pelayan toko dan
pekerjaan dengan sedikit ketrampilan seperti pegawai administrasi dan
Margareta
Monika Mitrika Satata
121510033
Akuntansi 2