Hari ini aku lihat dia lagi, ya dia
lelaki putih bergigi rapi. Entah kenapa aku begitu mengaguminya mulai dari
pertama kali aku melihat, di tempat yang sama saat ini. Seperti biasa dia
selalu menenteng jaket jeans berwarna biru, berjalan bergerombol dengan
teman-temannya, dan aku hanya perempuan yang bisa ikut tersenyum bahkan tertawa
kecil saat mendengar ocehan-ocehan guraunya dengan memandang paras wajahnya
dari pojok kejauhan.
Aku punya kebiasaan baru,
memandanginya setiap hari dalam waktu 15 menit, mengambil gambarnya dan mencari
tahu tentangnya secara diam-diam. Perlahan-lahan kebiasaan itu menjadi hobi
bagiku, sehari saja aku tidak melihatnya rasanya ada yang kurang “bagai sayur tanpa garam.” Ingin hati
ini menghampirinya dan bertanya “apakah kamu tercipta untukku?” ah itu terlalu
konyol, jelas saja lelaki itu pasti mentertawakanku.
Beberapa minggu kemudian,
pengumuman kenaikan kelas terpampang di mading sekolah. Betapa terkejutnya aku
saat melihat nama lelaki itu ada di bagian tengah sejajar dengan namaku, ini
bukan khayalan tapi ini jelas aku akan sekelas dengannya. Dua impian terwujud
dalam satu waktu aku ingin mengambil jurusan ini dan aku sekelas dengan lelaki
itu.
Kelas pertama dimulai pada bulan
Juli, aku semangat bukan main, aku tak ingin terlambat dikelas pertamaku, aku
ingin melihat pemandangan paras lelaki itu lebih dekat dari biasanya. Sampai di
sekolah ku parkirkan motorku disebrang gerbang, aku berlari kecil menuju kelas
dengan tak henti-hentinya tersenyum, tak peduli semua mata memandangku dengan
aneh yang penting ini hari pertamaku melihat dia dengan jarak tak sejauh
biasanya, hari ini aku bahagia sekali melebihi bahagia ketika aku diberi makan
dengan kecap yang sangat manis.
“Hay, disini!” teriak sahabatku, Natha. Aku berlari ke arah Natha dan cepat-cepat mengobrak-abrik kelas dengan
pandanganku untuk mencari sebuah tas berwarna biru belang, tapi aku tak
menemukannya padahal 5 menit lagi bel akan berbunyi. “mungkin dia terlambat”
batinku.
“kamu mencari siapa? Ku perhatikan
kau bahagia sekali pagi ini.” Tanya Lusia dengan sedikit menyipitkan mata
tanda sahabatku yang satu ini sedang penasaran, aku hanya menggeleng dan
tersenyum penuh arti. Aku belum berani menceritakan apa yang ku alami 6 bulan
terakhir ini kepada dua sahabatku, tapi suatu saat nanti pasti akan ku beri
tahu mereka.
Tiba-tiba aku tersenyum saat
mendengar dua orang lelaki sedang bercanda, ya aku kenal betul suara tertawa
itu, suaranya renyah seperti kerupuk yang baru digoreng, dengan cepat aku
menoleh ke pintu, benar saja itu adalah dia dan temannya. Ternyata lelaki itu
lebih tampan kalau dilihat dari dekat aku melihatnya sampai dia duduk manis di
barisan depan, mungkin lelaki itu sadar kalau sedang ku perhatikan dia dengan
cepat menoleh ke bangkuku, aku tertangkap basah olehnya, segera saja aku
melemparkan sebuah senyuman padanya dan dia langsung membalas senyumanku,
subhanallah indah sekali senyuman lelaki tampan itu.
****
Kesenanganku memendam perasaan
kepada lelaki tampan itu sepertinya akan pudar, karna lelaki itu menyukai teman
sebangkuku, memang temanku itu cantik, bodynya berisi, banyak nilai + yang dia
punya dari pada aku, apalagi setelah mengetahui bahwa mereka berdua jadian.
Lebih dari tangan yang sengaja dilukai dengan sebuah silet
rasa sakit hati ini, saat temanku menceritakan secara detail tentang
lelaki itu waktu mengatakan perasaannya pada temanku. Aku hanya tersenyum penuh
luka, seketika badan terasa lemas, menaggapi cerita temanku yang semakin lama
semakin membuatku akan terkena heart attack.
*18 bulan kemudian*
Aku terlihat aneh saat memakai gaun
berwarna merah marun, rambut yang kubiarkan terurai dan make up yang natural
ini, tapi apa boleh buat untuk satu hari ini aku harus memakainya. Tahun ini
aku lulus dan mendapatkan nilai memuaskan, aku juga sudah siap untuk
keberangkatanku ke Jakarta, untuk tes di perguruan tinggi favoritku.
Natha, Lusia juga terlihat cantik
bahkan aku tidak pernah melihat mereka secantik hari ini. Kita bertiga
berangkat bersama-sama menggunakan sebuah mobil keluaran terbaru menuju tempat
perpisahan. Sampai di tempatnya, kita bertiga disambut heboh oleh teman-teman.
Tak sengaja aku menengok ke ujung ruangan dan aku melihat lelaki tampan
bertuxedo dengan kemeja berwarna merah marun senada dengan gaunku sedang bercanda dengan sahabatnya. Aku senang
melihatnya, ya aku masih menyimpan perasaan ini untuknya, sungguh aku tak bisa
melupakannya.
Acara sudah dimulai bahkan ini
mendekati akhir, banyak teman-temanku yang berpencar dengan pasangannya
masing-masing, ada pula yang sibuk mengumpulkan tanda tangan yang katanya itu untuk kenang-kenangan. Aku, Natha dan Lusia masih duduk dengan menceritakan segala hal
seperti biasa, mereka sangat lucu, menyenangkan dan sahabat terhebat yang aku
punya. Lalu Raisa datang, aku dimintanya untuk tanda tangan, tapi tinta bulpoinnya bocor dan mengenai telapak tanganku, aku segera meminta ijin kepada teman-temanku untuk mencuci tangan di toilet.
****
Buru-buru aku keluar dari toilet
setelah mencuci tangan, tak jauh dari pintu toilet ku lihat lelaki tampan
favoritku sedang duduk gundah disana. Aku menghampirinya dan menepuk bahunya
“kau kenapa?” tanyaku heran, “aku menyukaimu.” Jawabnya cepat bahkan sebelum
aku menutup mulut. “aku sudah mengagumimu sejak aku masih dikelas satu, aku
sering melihatmu dipojok kantin tempat aku berkumpul dengan teman-temanku, aku
senang saat aku sekelas denganmu, aku jatuh cinta dengan senyuman pertamamu
ketika aku memergokimu sedang melihatku diawal kelas dua, tapi kenapa kamu jadi berbeda saat aku jadian dengan teman sebangkumu? apakah kamu cemburu? Kamu tau aku sangat menyayangimu. Dan..” aku memotong perkataannya
“Aku pun menyayangimu. Asal kamu tau aku mengagumimu sejak pandangan pertama, aku
selalu mengawasi perbuatanmu, aku selalu curi-curi pandang dikelas, ya saat itu aku marah padamu, aku juga kesal dengan diriku sendiri karna aku tak berani mengungkapkan perasaanku padamu. aku terlalu cemburu.” Aku mebuka tasku, aku mengambil box yang sudah ku bungkus rapi dengan
hiasan berwarna biru dongker yang sudah kusiapkan untuknya.
“aku menyesal, ku kira kau tak suka
denganku, bodohnya aku dengan ketidak pekaanku. Aku malah pergi dengan temanmu
dan meninggalkan kamu dengan sakit yang ku buat. Maafkan aku telah melukaimu,
aku mengaku salah, tapi aku dan dia sudah tidak berhubungan lagi. Maukah kau
memaafkanku?” jelas lelaki itu.
“mengapa
kau meminta maaf? Aku belum pernah mengatakan aku suka padamu jadi wajar saja
kalau kau tidak tau aku suka padamu. Sudahlah lupakan, aku sudah memaafkanmu.”
Jawabku datar. “terimakasih, tapi apa kamu tetap mau jadi kekasihku?” tanyanya dengan wajah
penuh harapan. “Aku memang menyukaimu bahkan sampai saat ini rasa itu masih ada
untukmu. Kau tak tau hatiku sudah kurapikan untuk menyambut kedatanganmu?”
Jawabku. “lalu?” tanyanya. “Aku mau menjadi kekasihmu lelaki tampan favoritku”
jawabku sambil memberikan box yang berukuran sedang tadi.
****
“hay,
pandai sekali kau mengambil fotoku diam-diam seperti ini, tunggu bukankah ini
gambaran yang kubuat saat ujian di kelas dua? Dan ini bukankah bungkus permen
yang bertuliskan “hi sweety” yang ku berikan untukmu saat kerja kelompok
dirumahku? Kau perempuan konyol yang pernah aku kenal, kenapa kau lakukan ini
semua sayang? Sungguh aku bahagia punya kekasih sepertimu.” Pujinya.
tamat
Wkwkwk hahahaha, asri kenapa ngga bikin cerpen aja sih ??, bodor bodor hayo ih keren nyeritainnya. Cerita di atas sama kamu ditambahin khayalan kamu ?, sumpah bodor, bikin cerita tentang aku juga dong :)
BalasHapus